1 Juta Murid Serentak Semarakkan Hari Belajar di Luar Kelas di 10 Ribu Sekolah Ramah Anak

1 Juta Murid Serentak Semarakkan Hari Belajar di Luar Kelas di 10 Ribu Sekolah Ramah Anak

Ambon, 1 November 2018,- Hari ini, Hari Belajar di Luar Kelas atau Outdoor Classroom Day (OCDay) dilaksanakan serentak di sekolah-sekolah di dunia dan Indonesia, sekaligus sebagai partisipasi memperingati Hari Anak Internasional. Belajar dan bermain merupakan salah satu dari hak anak yang diharapkan dapat memberikan wawasan dan keterampilan penting dalam kehidupan, seperti daya tahan, kerja sama, dan kreativitas. Hal ini mengemuka pada kampanye global Hari Belajar di Luar Kelas di SD Negeri 2 Lateri, Ambon. Kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya mendukung Sekolah Ramah Anak (SRA), dengan melangsungkan kegiatan belajar di luar kelas, atau Outdoor Classroom Day (OCDay).

Hari Belajar di Luar Kelas/OCDay merupakan kampanye global untuk menginspirasi aktivitas belajar di luar kelas, minimal 90 menit setiap hari. Jutaan anak dari ribuan sekolah di seluruh dunia turut mengambil bagian dalam kampanye ini. Lebih dari 120 negara pada hari ini melakukan gerakan Belajar di Luar Kelas, di antaranya: Inggris, Australia, India, Colombia, Saudi Arabia dan Amerika.

Hari ini, OCDay mencatat 3.464.843 anak-anak di 27.819 sekolah di seluruh dunia terlibat dalam OCDay. Sebanyak 927.395 adalah partisipan anak-anak di seluruh Indonesia yang mewakili 5566 sekolah/madrasah di Indonesia. Mereka semua merayakan kegembiraan belajar di luar kelas pada 1 November 2018, dan diharapkan sekitar 1 juta anak yang berasal dari 10 ribu satuan pendidikan di seluruh pelosok tanah air ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Hadir di SMAN 2 Tangerang Selatan, Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N. Rosalin, menyatakan bahwa pelaksanaan OCDay melalui SRA merupakan salah satu upaya memenuhi hak anak dan melindungi mereka dari berbagai kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi selama berada di sekolah. “Salah satu indikator terbentuknya Sekolah Ramah Anak adalah kegiatan belajar di luar kelas. Sekolah Ramah Anak membantu mewujudkan kondisi aman, nyaman, serta dan menyenangkan, selama anak di sekolah. Karena itu, belajar di luar kelas sangat dibutuhkan untuk menunjang proses belajar ramah anak. Dengan demikian diharapkan kesehatan mental dan fisik anak-anak kita semakin baik. Membuat mereka semakin banyak melakukan aktivitas yang juga baik untuk tumbuh kembangnya. Sekolah Ramah Anak ini juga sudah luar biasa membantu menciptakan suasana belajar yang membangun karakter positif anak yang penuh persaudaraan dan keakraban,” jelasnya.

Deputi V Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan dan Hak Asasi Manusia Strategis, Kantor Staf Presiden, Jaleswary Pramodha Wardhani turut hadir di SMAN 2 Tangsel. Menurutnya, “Masa Indonesia Emas 27 tahun dari sekarang adalah masa depan anak-anak yang sekarang sedang berada di usia sekolah ini. Karena itu, penting memberikan pengalaman belajar di luar kelas yang bermakna. Wawasan mereka akan bertumbuh lebih komplet lewat pengalaman bermain bersama, bekerjasama, bersosialisasi, dan saling mendukung dalam kesetaraan serta toleransi. Ini bekal penting bagi anak-anak calon pemimpin di masa mendatang.” ujar Jales.

Indonesia telah memulai OCDay sejak tahun 2017, yang diawali dengan kerjasama antara Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak dengan Ketua OCDay Global yang berpusat di London. Pada saat pertama kali berpartispasi, Indonesia menjadi kategori terbaik kedua setelah Inggris. Hal ini tercapai karena jumlah sekolah yang mengikuti dan melaksanakan OC Day di Indonesia semarak dengan berbagai tema. Di tahun 2018, Indonesia berpartisipasi kembali dengan jumlah SRA sebanyak 11.097 di 236 kabupaten/kota di 34 provinsi yang diikutsertakan.

Tahun ini, OCDay dilaksanakan dengan menggunakan konsep yang lebih variatif dari tahun sebelumnya. Terdapat 17 langkah kegiatan dan 10 nilai positif yang dilakukan oleh anak-anak dalam durasi waktu sekitar 3 jam. Dari 17 langkah kegiatan tersebut, anak-anak diharapkan dapat menerapkan dan berperilaku yang memenuhi 14 unsur, antara lain: pembentukan karakter positif, iman dan taqwa, kesehatan, adaptasi perubahan iklim, pelestarian permainan tradisional, cinta tanah air, literasi, pengurangan resiko bencana, dan mendorong sekolah ramah anak.

Kampanye global di Indonesia tahun ini serentak dipusatkan di beberapa sekolah yang tersebar di beberapa lokasi di Indonesia, yaitu SMAN 2 Tangerang Selatan, SDN 2 Bukittinggi, SLB Balikpapan, SMA Advent Manado, SDN 2 Lateri Ambon, dan YPK Kristus Jayapura.

Pelaksanaan OCDay ini selaras dengan amanat yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo agar setiap sekolah melakukan proses pembelajaran di luar kelas lebih banyak dengan persentase 60% daripada belajar di dalam kelas. Hal ini dimaksudkan agar proses pembelajaran menjadi menyenangkan, tidak membosankan, sekaligus memberi tantangan yang berbeda bagi anak-anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Yohana Yembise, yang menghadiri OCDay di SD Negeri 2 Lateri Ambon, berharap semakin banyak satuan pendidikan yang ikut berpatisipasi dalam OCDay. Diharapkan pula, aktivitas ini tak hanya dilakukan satu tahun sekali dengan inovasi beragam yang dilakukan oleh sekolah. “Kampanye global ini perlu direspon secara positif. Saya berharap kegiatan ini akan semakin mendorong percepatan pembentukan dan pengembangan sekolah ramah anak agar semakin banyak anak yang terlindungi di sekolah,” ungkapnya.

Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama, serta didukung oleh Kerlip. Murid dan guru (seluruh warga sekolah) yang mengikuti kegiatan dapat membagi momen tersebut melalui hastag #belajardiluarkelas.

2018-11-08T05:53:11+00:00